Gudang Ilmu: Tugas Kuliah
Showing posts with label Tugas Kuliah. Show all posts
Showing posts with label Tugas Kuliah. Show all posts

Thursday, February 17, 2022

Contoh Proposal Bisnis Usaha Kebab Turki


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Membuka usaha tidak hanya dibutuhkan modal dan kemauan kuat, namun juga butuh persiapan matang dan analisa mendalam tentang bagaimana prospek serta kelayakan usaha tersebut. Sebelum kita mulai membuka usaha ada baiknya bisnis kita pikirkan jauh-jauh hari, sehingga kita punya banyak waktu untuk mempersiapkan dan merancang bagaimana usaha kita nanti. Namun yang paling penting dari itu semua adalah action atau aksi nyata kita dalam membuka bisnis. Jadi tidak hanya sekedar hitung-hitungan hitam diatas putih, dimana secara hitung-hitungan semua usaha pasti menguntungkan. Tapi lebih dari itu, sejauh mana kemauan dan keberanian kita dalam merealisasikan rancangan bisnis (bisnis plan) yang sudah disusun.

Membuka usaha bukan hal yang mudah, terutama bagi anak-anak muda sebab banyak anak muda yang hanya berpikir bagaimana cara menghabiskan dan menikmati masa mudanya, jarang sekali yang berpikir tentang bagaimana memanfaatkan waktunya untuk menghasilkan atau menciptakan sesuatu yang produktif dan berguna. Salah satunya yaitu dengan membuka usaha sendiri. Mungkin banyak di luar disana anak-anak muda yang mempunyai ide-ide bisnis, namun masalahnya sedikit sekali yang take action atau benar-benar merealisasikan ide bisnisnya. Dengan alasan kurang modal, takut gagal, dan lain sebagainya.

Tidak ada usaha yang tiba-tiba langsung tumbuh besar dan terkenal. Semua bisnis besar yang kita kenal sekarang selalu dimulai dari hal-hal kecil. Sebagai contoh, PT. Garuda food, dulu sebelum menjadi besar seperti sekarang, pemilik PT. Garuda Food hanyalah tukang penjual kacang, ia berkeliling dari satu desa ke desa lain untuk menjual kacangnya. Namun siapa yang menyangka jika Perusahaan yang iklannya banyak kita lihat di TV, berawal dari jualan kacang keliling.

Oleh karena itu, tidak masalah jika mulai membuka usaha dengan skala yang kecil terlebih dulu. Karena usaha kecil-kecilan tersebut dapat menjadi peluang usaha yang besar apabila dikelola dan di manajemen dengan baik. Contoh lain usaha kecil yang dulu dianggap remeh oleh orang-orang dan sekarang menjadi salah satu jaringan waralaba terbesar di Indonesia adalah Kebab Turki Baba Rafi. Perusahaan kebab ini awalnya didirikan pada tahun 2005 di Surabaya .Sekitar tahun 2010-an kantor pusatnya dipindahkan ke Jakarta. Sekarang Kebab Turki Baba Rafi memiliki lebih dari 1000 outlet di Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Sejarah Pada tahun 2005, outlet miliknya telah menerapkan sistem waralaba hingga sekarang. Tak hanya di Indonesia, outlet Kebab Turki Baba Rafi pun juga dibuka di Malaysia dan Filipina. Bahkan, Kebab Turki Baba Rafi telah mendapatkan penghargaan di kancah nasional dan internasional.

Kebab adalah makanan khas Timur Tengah yang dibuat dari daging sapi panggang, diracik dengan sayuran segar, dan dibumbui mayonaise, lalu digulung dengan tortila. Sebenarnya, kebab banyak beredar di Qatar dan negara Timur Tengah lainnya. Di Indonesia makanan ini juga sudah banyak kita jumpai tidak hanya di perkotaan tapi juga di pedesaan. Namun harga kebab yang dijual disini tergolong cukup mahal untuk sebuah jajanan, yaitu sekitar lima belas ribu keatas membuat orang-orang dengan kondisi uang pas-pasan menjadi eman-eman kalau digunakan untuk membeli kebab, lebih baik dibelikan gorengan bisa dapat banyak dan kenyang lagi. Oleh karena itu masih ada banyak peluang yang bisa kita masuki dalam jualan kebab ini. Seperti membuat kebab dengan harga yang lebih ramah dikantong namun dengan rasa yang sama. Berdasarkan contoh-contoh usaha dan uraian yang sudah di jelaskan diatas, maka penulis berencana untuk membuka usaha yaitu “Outlet Kebab Turki”.

B. Tujuan
1. Untuk mempermudah dalam pengembangan usaha dan memudahkan konsumen mencari jajanan di waktu sore hari.
2. Memanfaatkan untuk menyalurkan hobi bahkan menjadikan media kreasi melalui aneka ragam makanan yang berbahan singkong agar berkembang menjadi suatu keuntungan dalam berbisnis.
3. Memberikan ide – ide kreatif dalam mengembangkan usaha dengan kreativitas terutama dalam pembuatan aksesoris.
4. Sebagai modal dasar untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan
5. Sebagai wacana untuk memulai sebuah langkah dalam mengatasi minimnya lapangan kerja saat ini.

BAB II
ASPEK PEMASARAN

C. Profil Konsumen
Hidangan yang satu ini sangat disukai oleh masyarakat Indonesia dengan menambahkan beragam rasa yang memiliki ciri khas rasa Indonesia. Daging kebab asli Turki umumnya dibuat dengan menggunakan daging kambing, namun di Indonesia kebab Turki dibuat dengan menggunakan daging ayam. Kebab di Indonesia mudah sekali ditemukan baik di kios-kios pinggir jalan maupun di pusat perbelanjaan.

Adapun konsumen dari kebab ini lebih kebanyakan merupakan kalangan remaja sampai dewasa. Sebab rasa kebab yang pedas terkadang membuat anak kecil kurang suka. Sedangkan untuk orang tua biasanya tidak suka dengan rasa soas mayones yang ada dikebab. Jadi sasaran utama konsumen outlet kebab turki ini adalah kalangan remaja sampai dewasa, namun bukan berarti tidak menerima konsumen anak-anak dan orang tua. Secara umum kebab bisa dinikmati siapa saja dengan sedikit modifikasi bahan agar sesuai dengan lidah orang Indonesia. Intinya Siapapun dapat mengkonsumsi jajanan ini karena aman, apalagi buat teman ngobrol bersama teman maupun keluarga.

D. Potensi dan Segmentasi Konsumen
Tentu saja sesuai dengan tema jajanan sore, Kebab Turki menggunakan bahan menggunakan daging kambing, namun di Indonesia bahan kebab dibuat dengan menggunakan daging sapi atau ayam yang dibalut oleh roti tortila berwarna putih/hitam dan ditambahkan dengan sayur-sayuran seperti selada, tomat, bawang bombay, dan jika suka bisa diberikan mayonais, saus tomat, saus sambal, ataupun keju. Jajanan ini merupakan diversifikasi produk dari produk jenis burger, namun memiliki nilai lebih dari segi rasa.

Masih banyak potensi atau variasi yang dapat dikembangkan dari kebab turki ini, mulai dari isian, saus, bentuk, dan juga rasa. Sehingga dengan beberapa variasi kita bisa membuat segmentasi pasar, seperti kebab khusus anak-anak, kebab khusus orang tua, kebab mini untuk yang low budget, dan masih banyak lagi. Dengan adanya segmentasi pasar yang jelas kita dapat menentukan dimana lokasi, harga dan varian kebab apa yang akan kita jual. Jadi, kita tidak perlu takut untuk bersaing dengan penjual kebab yang lain.

E. Pesaing dan Peluang Pasar
Persaingan bisnis kebab ini terbilang sudah cukup banyak, namun dengan perencanaan dan perhitungan yang baik kita tidak perlu takut dengan adanya pesaing, justru kita sebagai pendatang baru yang terkadang membuat para pesaing lain menjadi khawatir. Dengan adanya pesaing kita akan semakin termotivasi dan berusaha lebih giat lagi untuk mengembangkan produk supaya memiliki nilai jual lebih dibandingkan dengan produk yang sudah ada. Untuk itu kita akan memanfaatkan media sosial seperti facebook dan Instagram sebagai media promosi dan pemasaran agar bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan agar mampu bersaing dengan baik yaitu sebagai berikut :

1. Hal terpenting dalam bisnis ini yaitu kita harus memperhatikan hal dalam mempromosikan produk yang akan dijual,
2. Mengutamakan kualitas produk yang dijual,
3. Meyakinkan konsumen terhadap produk yang dijual,
4. Melakukan pelayanan dengan ramah agar dapat menciptakan kenyamanan pada konsumen.

Selain mencari cara supaya dapat bersaing, perlu dilakukan juga analisis peluang usaha. Berikut adalah beberapa peluang yang bisa dalam usaha kebab ini:
1. Masih ada banyak kemungkinan kebab untuk dikembangkan dan di buat variasi baru, mulai bahan, rasa, bentuk, isian, dan cara pengolahan.
2. Adanya segmentasi pasar yang luas yang masih dapat dimasuki.
3. Adanya link atau koneksi dengan seseorang yang sudah berpengalaman dalam membuat dan berjualan kebab.
4. Lokasi yang strategis yaitu dekat dengan alun-alun desa dan kecamatan serta pabrik.

F. Metode Promosi Yang Digunakan
1. Promosi mulut ke mulut
Kita pasti mengenal istilah berjualan dari pintu ke pintu (Door to Door) dan dari mulut ke mulut (words of mouth). Strategi penjualan tradisional seperti ini ternyata memang masih tetap efektif hingga sekarang, apalagi memanfaatkan kalangan wanita, yang notabenenya wanita lebih banyak bergosip.

2. Promosi Online
Sekarang banyak orang yang sudah mempunyai akun facebook ataupun Instagram termasuk emak-emak. Media sosial ini bisa kita manfaatkan sebagai tempat untuk promosi gratis namun cukup efektif. Apalagi kalau foto makanan yang kita upload terlihat enak dan meyakinkan kemungkinan akan banyak orang yang tertarik untuk membelinya. Sebab belanja online sudah menjadi budaya masyarakat kita saat ini, tinggal pesan lewat HP barang diantar sampai rumah, tidak perlu repot-repot keluar apalagi kalau ongkos kirimnya gratis.

G. Target Pemasaran
Target pasar outlet kebab turki ini secara umum adalah semua kalangan, sedangkan secara khusus sasaran utama kita yaitu kalangan anak muda sampai orang dewasa. Dimana pada usia-usia tersebut orang lebih suka jajan makanan diluar dibandingkan dengan orang tua atau anak-anak.

BAB III
ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGI

A. Jenis dan Karakteristik Produk
Kebab adalah salah satu makanan khas dari Timur Tengah yang terdiri dari tortilla (kulit kebab), daging sapi panggang, daun letuce, timun jepang, bawang bombay, tomat, saos, sambal dan mayonese, kemudian digoreng dengan mentega. Kebab Turki ini diaplikasikan di Indonesia dengan bahan baku yang sama dan rasa yang tidak jauh berbeda dari aslinya. Untuk pengelolaannya daging dengan ukuran besar diasap, baru dipotong, dan diiris tipis-tipis dengan begitu aroma asap membuat daging terasa nikmat. Sedangkan untuk bumbu dan saos dibuat sedikit manis yang disesuaikan dengan lidah orang Indonesia.

B. Keunggulan Produk
1. Keunikan Produk
Makanan khas asal turki ini termasuk jajanan sore yang cukup istimewa dibandingkan dengan gorangan ataupun martabak. Justru inilah salah satu keunikan dari kebab, dia bisa sekaligus menjadi makan malam yang lezat dan cukup mengenyangkan. Sehingga kuliner kebab akan laris manis di pasaran karena pangsa pasarnya cukup luas. Rasanya tidak sulit menawarkan kebab ini dimana cukup banyak orang yang menggemarinya.

2. Novelty (Inovasi / Keunggulan Produk)
Membuat kebab bisa dibilang tidak terlalu sulit, yang penting alat dan bahan sudah sudah tersedia, kita tinggal mengikuti saja resepnya yang bisa kita cari di internet. Kita dapat membuat produk kebab yang enak dan menarik dengan beberapa kreasi dan inovasi. Mulai dari variasi isian, menggunakan jenis daging yang berbeda, menyediakan macam-macam saus dan sayuran.

Terobosan baru juga bisa dengan cara membuat kebab ini menjadi jajanan yang lebih merakyat seperti gorengan. Ini memang cukup sulit tapi bukan berarti tidak mungkin. Karena sudah ada contohnya yaitu burger mini, dimana hanya dibanderol dengan harga Rp. 2.500 jauh sekali dengan harga aslinya. Jika temuan baru ini berhasil, tentu saja akan menciptakan peluang pasar yang baru, dimana anak SD pun bisa membelinya.

C. Ketersediaan Bahan Baku
Untuk bahan baku ada dari suplier kebab dan ada yang rumahan. Jika kita memulai bisnis yang termasuk frenchise/waralaba seperti kebab turki, kita tidak perlu repot dengan bahan baku. Depo kebab adalah salah satu produsen tortilla dan berbagai macam kebutuhan bahan baku kebab dan burger. Kita tinggal pesan secara online, tidak perlu repot-repot untuk membuat bahan bakunya sendiri yang belum tentu juga akan berhasil.

Saat ini Depo kebab membuka kesempatan kepada para pelaku UKM untuk menjadi agen bahan baku kebab dan yang pasti siap mensupplay bahan baku kepada para pelaku usaha baik yang baru startup/pemula maupun sebagai franchise (kemitraan) dengan pembelian dalam jumlah kecil maupun partai besar.

D. Bahan Baku dan Penggunaannya
Usaha Kebab Turki membutuhkan bahan baku berupa daging dan roti kebab (tortila). Bahan baku tersebut sudah tersedia di suplier. Bahan pendukung lain berupa bawang putih, bawang bombay, cabe merah, jahe, garam dan lada, ketumbar, yoghurt plain, selada, timun, saus dan mayonaise. peralatan yang digunakan antara lain kompor, tabung gas, spatula, penggorengan datar, karton pembungkus, kertas minyak label, alat panggang daging/paket, rak sayuran.
Berikut kebutuhan kebab untuk mode rumahan, sedangkan untuk waralaba sudah disediakan oleh perusahaan.
Tabel 1. Kebutuhan Peralatan
Tabel 2. Kebutuhan Bahan Baku Dan Pendukung Tiap Produksi
E. Proses Produksi
Bahan baku kebab selain kita membeli dari supplier juga bisa membuat sendiri. Adapun proses pembuatan, alat dan bahan yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Cara membuat Tortila (kulit Kebab)
Proses pembuatan Kebab Turki cukup mudah, adapun cara pembuatan tortila yaitu:

a. Campurkan semua bahan :
1) 250 gram tepung terigu
2) 1/2 sdt garam
3) 1/2 sdt baking soda
4) 1/2 sdt gula pasir
5) sdm minyak goreng
6) 100 ml susu cair hangat

b. Aduk rata.
c. Tuang susu cair sedikit demi sedikit.
d. Uleni adonan sampai kalis dan diamkan selama kurang lebih 30 menit.
e. Ambil adonan dan bulatkan.
f. Pipihkan dengan rolling pan sampai tipis.
g. Panggang adonan di atas teflon sampai kecoklatan.
h. Angkat dan dinginkan.

2. Cara membuat daging kebab
a. Siapkan daging sapi kemudian cuci hingga bersih.
b. Setelah dicuci, kemudian pukul-pukul daging hingga agak melebar.
c. Siapkan bumbu-bumbu berupa cabai merah, bawang putih, jahe dan ketumbar, kemudian haluskan menggunakan blender atau ulekan.
d. Setelah bumbu halus, tambahkan pula yoghurt plain beserta bahan lain seperti garam serta lada.
e. Setelah semua bahan tercampur dengan daging, diamkan selama kurang lebih 10 menit hingga semua bumbu meresap pada daging.
f. Setelah 10 menit, panggang daging hingga matang. Angkat dan tiriskan.

3. Cara Penyajian Kebab :
a. Siapkan daging sapi kemudian cuci hingga bersih.
b. Setelah dicuci, kemudian pukul-pukul daging hingga agak melebar.
c. Siapkan bumbu-bumbu berupa cabai merah, bawang putih, jahe dan ketumbar, kemudian haluskan menggunakan blender atau ulekan.
d. Setelah bumbu halus, tambahkan pula yoghurt plain beserta bahan lain seperti garam serta lada.
e. Setelah semua bahan tercampur dengan daging, diamkan selama kurang lebih 10 menit hingga semua bumbu meresap pada daging.
f. Setelah 10 menit, panggang daging hingga matang. Angkat dan tiriskan.

F. Jumlah Produk yang dihasilkan
Kapasitas produksi yang direncanakan adalah sebanyak 300 bungkus setiap 1 kali produksi/minggu. Untuk 1 bulan 300 x 4 =1.200 bungkus/bulan. Untuk 1 tahun = 1.200 x 12 = 14.400 bungkus.

G. Penggunaan teknologi
Tidak ada teknologi khusus yang digunakan. Alat-alat untuk membuat kebab merupakan alat standar yang biasa digunakan dalam membuat makanan ini. Teknologi yang digunakan hanyalah smartphone untuk memfoto produk dan mengiklankannya di media sosial facebook dan Instagram.

BAB IV
ASPEK SUMBER DAYA MANUSIA

A. Pemanfaatan Sumber Daya Manusia
Pekerja diambil dari kalangan pelajar atau mahasiswa perantauan yang ingin membutuhkan uang lebih, bisa juga diambil dari teman dekat ataupun saudara di kampung, atau istri dan anak bisa kita manfaatkan.

B. Kualifikasi Sumber Daya Manusia yang dibutuhkan
1. Pekerja harus memiliki kejujuran yang tinggi dan pandai memikat hati pelanggan dengan cara tersendiri.
2. Memiliki reputasi yang baik (bukan bekas napi), dan rajin bekerja serta tidak gampang mengeluh.
3. menjaga amanah serta cekatan/gesit dan tidak merokok

C. Uraian Tugas
1. Memanggang Daging dan tortila
2. Melayani konsumen
3. Membuat laporan uang sederhana

D. Sistem Penggajian dan Kompensasi
1. Pekerja digaji secara tetap selama 1 bulan.
2. Bonus di dapat di akhir minggu setiap hari Jum’at

BAB V
ASPEK MANAJEMEN STRATEGI

Menurut Thompson dan Strickland dalam bukunya Strategic Management menyatakan bahwa manajemen strategi memiliki aspek-aspek strategi yang senantiasa dipertimbangkan dalam menentukan strategi yang akan dilaksanakan. Aspek-aspek tersebut antara lain:

A. Mengembangkan visi dan misi
Visi adalah landasan filosof dari usaha yang kita dirikan, sedangkan misi adalah implementasi dari visi tersebut dan menjawab pertanyaan: apakah alasan kita untuk berada dalam usaha ini? Adapun visi dan misi usaha kebab turki ini adalah sebagai berikut:
Ø Visi: “Menghadirkan jajanan yang murah, sehat, dan merakyat”
Ø Misi:
v Menggunakan bahan yang fresh dan berkualitas
v Menyajikan makanan dengan higenis
v Memberikan harga yang ramah dikantong
v Memberikan pelayanan yang ramah dan menyenangkan

B. Mengatur tujuan organisasi
Tujuan dari usaha kebab turki ini selain untuk mendapatkan keuntungan juga berharap dikemudian hari dapat memberikan lapangan pekerjaan kepada orang yang membutuhkan.

C. Merumuskan strategi untuk mencapai tujuan
Strategi usaha yang akan diterapkan pada outlet kebab turki ini adalah strategi keunggulan kompetitif yaitu, diferensiasi produk dan cost leading (harga lebih murah dibanding pesaing) serta strategi fungsional pada umumnya yaitu strategi yang fokus pada 4P (Price, Person, Place, Promotion). Strategi tersebut akan dijelaskan pada bab selanjutnya.

D. Mengimplementasikan dan melaksanakan strategi
Setelah strategi dirumuskan, strategi harus diimplementasikan. Strategi hanya bagus jika implementasinya bagus. Tanpa peduli betapa efektifnya sebuah perusahaan telah merencanakan strateginya, perusahaan tersebut tidak dapat berhasil jika strategi itu tidak diimplementasikan dengan semestinya.

E. Mengevaluasi hasil
Langkah terakhir dalam aspek manajemen strategi adalah mengevaluasi hasil. Seberapa efektif strategi yang telah laksanakan? Apapun hasilnya, akan menjadi rekomendasi masukan bagi perbaikan dan penyempurnaan strategi dan implementasi berikutnya dan jika ada, penyesuaian apa yang diperlukan untuk meningkatkan daya saing dalam usaha.

F. Strategi Penjualan
1. Tahap Perencanaan
Langkah-langkah pada tahap perencanaan yaitu :
a. Mengembangkan usaha dengan cara identifikasi produk dan pesaing (Deferensiasi produk)
b. Melakukan promosi produk secara online
c. Menentukan lokasi usaha
d. Memberikan harga yang lebih murah (cost leading)
e. Membuat segmentasi pasar, seperti kebab untuk anak-anak, kebab untuk orang tua, dan kebab untuk umum.

2. Tahapan Analisis.
a. Strength (kekuatan)
· Citarasa yang khas.
· Tempat penjualan yang fleksibel (gerobak).
· Mutu dan kebersihan terjamin.
· Pelayanan yang terbaik bagi konsumen.

b. Weakness (kelemahan)
· Kurangnya modal awal untuk menjalankan usaha.
· Adanya inflasi.
· Produk dengan jangka kadaluarsa yang pendek.

c. Opportunity (peluang/kesempatan)

· Mitra / pelanggan.
· Pasar yang baru, yang menarik konsumen dengan minat yang berbeda.

d. Threat ( hambatan)

Banyak orang yang masih belum familiar dengan cita rasa kebab yang khas Timur Tengah.

BAB VI
ASPEK KEUANGAN

A. Investasi Yang Dibutuhkan
1. Tempat
Untuk tempat produksi kita bisa menggunakan dapur rumah, sedangkan tempat berjualan kita menyewa lapak, seperti di depan toko atau minimarket bisa juga di tempat khusus untuk berjualan seperti di alun-alun.

2. Peralatan
Tabel 3. Daftar Peralatan Berjualan Kebab Turki
3. Bahan Baku
Tabel 4. Daftar Bahan Baku Membuat Kebab Turki
B. Laporan Arus Kas (Dalam Ribuan)

C. Penentuan Harga Pokok Penjualan
Proyeksi penentuan harga pokok penjualan usaha/minggu
Dalam seminggu BEP sebesar Rp. 154.000 atau 9 porsi. perharinya Rp. 114.000, dengan berjualan atau laku 7 porsi/hari sudah menutupi biaya variabel selama 1 minggu.

D. Perhitungan Kelayakan Investasi (BEP)
Proyeksi rugi-laba dalam satu kali produksi usaha/bulan (asumsi laku 1200 bungkus)
Usaha Kebab Turki sangat layak dijalankan karena B/C Ratio > 1, yaitu 5.48

BAB VI
KESIMPULAN

Berbisnis Kebab Turki secara perhitungan cukup menguntungkan, karena bahan utamanya mudah dicari, harga pun bisa beragam, rasanya enak, dan memiliki peminat sendiri. Tetapi tidak ada usaha tanpa adanya adanya resiko atau tantangan, untuk tantangan dalam menjalankan usaha kebab ini salah satunya adalah tingkat persaingan usaha yang cukup tinggi karena sudah banyak bisnis kebab yang bermunculan bahkan di desa-desa. Untuk mengatasi tingkat persaingan ini kita bisa mengadakan beberapa inovasi produk dan kreasi terhadap masakan kebab kita. Inilah yang dimaksud dengan diferensiasi produk dan berani memberikan harga yang sedikit lebih murah daripada para pesaing atau biasa disebut dengan cost leading.

Tantangan lain dari usaha ini yaitu belum terbentuknya pasar yang akan menjadi target penjualan kita. Akibatnya Kebab Turki yang terjual hanya sedikit. Untuk itu yang terpenting kita harus menemukan atau membuat pasar baru dimana kebab menjadi jajanan merakyat yang bisa dimakan dan dinikmati oleh siapa saja. Dengan kata lain, kita harus bisa menciptakan market share baru khusus untuk jajanan kebab turki ini.

Portofolio Investasi Saham


A. PENDAHULUAN
Sejak Harry Markowitz (1952) mengemukakan teori portofolio modern, risiko investasi dapat diperkecil melalui pembentukan portofolio yang efisien, sehingga risikonya lebih rendah daripada risiko masing-masing instrumen investasi yang membentuk portofolio tersebut. Teori portofolio menekankan pada usaha untuk mencari kombinasi Investasi Optimal yang memberikan tingkat keuntungan atau rates of return maksimal pada suatu tingkat resiko tertentu. Tingkat keuntungan yang diharapkan atas suatu portofolio adalah merupakan rata-rata tertimbang tingkat keuntungan dari berbagai asset keuangan dalam portofolio (Ramadhan et al., 2020).

Portofolio adalah gabungan dari berbagai instrument investasi baik yang berbentuk tanpa disengaja atau memang diputuskan melalui perencanaan yang didukung dengan perhitungan dan pertimbangan rasional untuk memaksimumkan risiko investasi Sulisistiyowati (2017) dalam (Mulyati & Murni, 2018). Sedangkan menurut Zubir (2011) dalam Salim (2019) bahwa yang dimaksud dengan portofolio saham adalah investasi yang terdiri dari beberapa saham perusahaan yang berbeda dengan harapan bila ada salah satu saham yang menurun sementara yang lain meningkat, maka investasi tersebut tidak mangalami kerugian. Selain itu kolerasi antara return satu saham dengan saham lain juga akan memperkecil varians return potofolio tersebut (Salim, 2019).

B. RUMUS PORTOFOLIO SAHAM
Contoh perhitungan diambil dari hasil penelitain Yuniarti (2010) yang berjudul “Pembentukan Portofolio Optimal Saham-Saham Perbankan Dengan Menggunakan Model Indeks Tunggal”. Rumus-rumus yang digunakan dalam perhitungan yaitu sebagai berikut:

1. Menghitung ERBi
Keterangan:
ERBi = Excess Return to Beta sekuritas ke- i ,
E(Ri) = Return ekspektasi berdasarkan model indeks tunggal bagi sekuritas ke- i
RBR = Return aktiva bebas resiko,
βi = Beta sekuritas ke-i.

2. Menghitung Ri

(Pt - Pt-1) + D

Dimana : Ri = Pt-1
Keterangan :
Ri = Tingkat return saham i
Pt = Indeks harga saham individu akhir periode
Pt-1 = Indeks harga saham individual awal periode
D = Dividen saham yang diterima pada saham i

3. Menghitung βi
Keterangan :
βi = Beta sekuritas ke-i,
Rit = Return sekuritas ke-i dan periode ke-t,
RMt = Return indeks pasar ke-i dan periode ke-t.

4. Mengitung Ai, βi dan Ci
Dimana :
σ ei 2 = Varian dari kesalahan residu atau residual error saham ke-i yang juga merupakan resiko unik atau resiko tidak sistematik.
Ci adalah nilai C untuk saham ke- i yang dihi- tung dari akumulasi nilai-nilai A1 sampai Aj dan nilai- nilai B1 sampai Bj. (3) Besarnya Cut off Point (C*) ada lah nilai Ci dimana nilai ERB terakhir kali masih lebih besar dari nilai Ci; (5) Saham-saham yang membentuk portofolio optimal adalah saham-saham yang mempunyai excess return to beta (ERB) lebih besar atau sama dengan nilai ERB dititik C*. Saham-saham yang mempunyai nilai ERB lebih kecil dengan ERB pada titik C* tidak diikutsertakan dalam pembentukan por- tofolio optimal.

C. MENYUSUN PORTOFOLIO SAHAM OPTIMAL MODEL INDEKS TUNGGAL
Peringkat saham disusun berdasarkan pering- kat ERB yang dimiliki mulai dari yang tertinggi ke terendah, hal itu menunjukkan peringkat keinginan untuk memilih saham yang akan dimasukkan dalam portofolio.

Tabel 1 Tingkat Keuntungan Pasar dan Varian Tingkat Keuntungan Portofolio Pasar Saham Perbankan
Tabel 2 Return Saham, Beta, Systematic Risk dan Unsystematic Risk
Tabel 3 Perhitungan Excess Return to Beta
Tabel 4 Perhitungan Cut Off Rate
Tabel 5 Pembentukan Portofolio Optimal dengan Model Indeks Tunggal

D. KESIMPULAN
Portofolio merupakan penanaman investasi pada lebih dari satu saham, dalam pembentukan portofolio ini harus dicari kombinasi saham mana yang optimal. Kunci dari pemilihan portofolio investasi yang optimal adalah bagaimana kemampuan investor melakukan diversifikasi investasi dalam mengukur tingkat risiko dan tingkat keuntungan yang diterimanya sebagai konsekuensi keputusan pemilihan portofolio investasi tersebut. Jika seorang investor ingin membentuk portofolio maka investor harus benar-benar dapat membaca dan mencermati pasar yang ada secara tepat.

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan kombinasi portofolio yang paling optimal adalah terletak pada kombinasi portofolio saham-saham BBRI yang diinvestasikan sebesar 58,15%, ham BBCA diinvestasikan sebesar 23,72% dan saham BBNI sebesar 18,13%.

DAFTAR PUSTAKA

Mulyati, S., & Murni, A. (2018). Analisis Investasi Dan Penentuan Portofolio Saham Optimal Dengan Metode Indeks Tunggal (Studi Empiris Pada Idx 30 Yang Terdaftar Di Di Bursa Efek Indonesia Periode Agustus 2017-Januari 2018). Jurnal Akuntansi Dan Keuangan, 6(2), 129. https://doi.org/10.29103/jak.v6i2.1831

Ramadhan, M., Suharti, T., & Nurhayati, I. (2020). Diversifikasi Saham Dalam Pembentukan Portofolio Untuk Meminimumkan Risiko. Manager : Jurnal Ilmu Manajemen, 3(4), 450. https://doi.org/10.32832/manager.v3i4.3914

Salim, D. F. (2019). Perancangan Portofolio Optimal Dengan Mengunakan Return On Assets, Return On Equity Dan Economic Value Added Pada Indeks Jakarta Ismaic Index Periode 2014-2018. Jurnal Riset Akuntansi Dan Keuangan, 7(1), 43–54. https://doi.org/10.17509/jrak.v7i1.15470

Yuniarti, S. (2010). Pembentukan Portofolio Optimal Saham – Saham Perbankan Dengan Menggunakan. Jurnal Keuangan Dan Perbankan, 14(3), 459–466.

Portofolio Investasi Obligasi

A. PENDAHULUAN

Obligasi
Obligasi merupakan salah satu sumber pendanaan (financing) bagi Pemerintah dan Perusahaan, yang dapat diperoleh dari pasar modal. Secara sederhana, obligasi merupakan suatu surat berharga yang dikeluarkan oleh penerbit (issuer) kepada investor (bondholder), dimana penerbit akan memberikan suatu imbal hasil (return) berupa kupon yang dibayarkan secara berkala dan nilai pokok (principal) ketika obligasi tersebut mengalami jatuh tempo (Manurung et al., 2009).

Obligasi Pemerintah
Menurut Kementerian Keuangan Republik Indonesia dalam publikasinya (2009) tentang mengenai surat utang negara menjelaskan bahwa obligasi Negara merupakan surat berharga negara yang berupa pengakuan utang dalam mata uang rupiah maupun valuta asing yang
pembayaran bunga dan pokoknya oleh negara Republik Indonesia sesuai dengan masa berlakunya (Aswari, 2019). Menurut Sitorus (2015) Pemerintah menerbitkan Obligasi seri FR (Fixed Rate Bond), Obligasi VR (Variable Rate Bond), Zero coupon dan Obligasi pemerintah yang disebut HB (Hadge Bond) (Sitorus, 2015).

Obligasi Perusahaan
Surat utang yang diterbitkan oleh suatu perusahaan berupa janji untuk membayar sejumlah utang (seperti yang tercantum dalam nominal obligasi) di kemudian hari beserta pembayaran bunganya secara berkala (Rudianto, 2012).

Risiko Investasi di SBN dan Obligasi Korporasi
Malik (2021) mengutip dari laman HD Capital menyebutkan bahwa obligasi korporasi memiliki peringkat risiko yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan obligasi pemerintah. Risiko ini tergantung pada jenis perusahaan dan kondisi pasar yang digunakan sebagai pembanding dan peringkat perusahaan penerbit. Risiko itu dapat dihitung dengan menggunakan analisis secara luas, guna menetapkan perbedaan imbal hasil dengan obligasi pemerintah yang bebas risiko.

Sementara, obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah Indonesia atau SBN dijamin dalam Undang-Undang No. 24 tahun 2022 Tentang Surat Utang Negara. Dalam Undang-Undang disebutkan bahwa Pemerintah Republik Indonesia menjamin pembayaran bunga dan pokoknya sesuai dengan masa berlakunya (Malik, 2021).

Beberapa variabel dalam obligasi:

Yield Obligasi
Pendapatan atau imbalan hasil atau return yang akan diperoleh dari investasi obligasi dinyatakan sebagai yield, yaitu hasil yang akan diperoleh investor apabila menempatkan dananya untuk dibelikan obligasi (Susilo, 2009).

Suku Bunga
Tingkat suku bunga adalah tingkat bunga dinyatakan dalam persen yang akan dibayar peminjam (debitur) kepada pihak yang meminjamkan (kreditur) atas pemakaian sumber daya dengan jangka waktu tertentu (perbulan atau pertahun) (Desnitasari, 2014).

Kupon
Kupon obligasi adalah pendapatan bunga yang dibayarkan kepada pemegang obligasi atas perjanjian dengan penerbit obligasi untuk setiap periode tertentu, pada umumnya tiap setengah tahun atau tahunan (Hartono, 2013).

Maturity
Maturitas atau maturity date yaitu tanggal dimana nilai yang dijanjikanakan dibayar pada saat jatuh tempo (Hartono, 2013).

Likuiditas
Obligasi yang likuid adalah obligasi yang banyak beredar di kalangan pemegang obligasi serta sering diperdagangkan oleh investor di pasar obligasi (Indarsih, 2013).

Rating Obligasi
Peringkat obligasi adalah proses untuk menentukan tingkat risiko gagal bayar yang melekat pada perusahaan yang akan menerbitkan obligasi (Prihadi, 2010).

B. TRANSAKSI PEMBELIAN dan PORTOFOLIO OBLIGASI

1. Contoh Transaksi
a. Contoh Transaksi Pembelian / Example of Subscription Transaction,
Nominal Transaksi / Nominal Transaction : IDR 200.000.000
Tanggal Transaksi / Trade Date : 16 Februari 2021
Tanggal Penyelesaian / Settlement Date : 18 Februari 2021
Harga Beli Nasabah / Offer Price : 102.5%
Hari Bunga Berjalan / Accrued Days : 25
Jumlah Nilai Pokok / Principal Amount : 200.000.000 x 102.5% = IDR 205.000.000
Bunga Berjalan / Accrued Interest : 200.000.000 x 9% x 25/360 = IDR 1.250.000
Total Nasabah Bayar / Total Customer Paid : IDR 206.250.000
Pembayaran Kupon Pertama / First Coupon Payment
Pembayaran Kupon Penuh : 200.000.000 x 9% x 90/360 = IDR 4.500.000
Perhitungan Pajak : 4.500.000 – 1.250.000 ₂ x 15 % = IDR 487.500
Dana yang diterima : 4.500.000 – 487.500 = IDR 4.012.500 (nett)

b. Contoh Transaksi Penjualan / Example of Redemption Transaction
Nominal Transaksi / Nominal Transaction : IDR 200.000.000
Tanggal Transaksi / Trade Date : 15 Juni 2021
Tanggal Penyelesaian / Settlement Date : 17 Juni 2021
Harga Jual Nasabah / Bid Price : 102.75%
Hari Bunga Berjalan / Accrued Days : 54
Jumlah Nilai Pokok / Principal Amount : 200.000.000 x 102.75% = IDR 205.500.000
Bunga Berjalan / Accrued Interest : 200.000.000 x 9% x 54/360 = IDR 2.700.000
Nilai Pokok Pembelian : 205.500.000 + 2.700.000 = IDR 208.200.000
Perhitungan Pajak / Tax Calculation : 200.000.000 x (102.75 – 102.5%)
+ 2.700.000 x 15% = IDR 480.000
Dana yang diterima : IDR 208.200.000 – 480.000 = IDR 207.720.000

2. Portofolio Obligasi
Dalam pengelolaan portofolio obligasi ada tiga pendekatan yaitu (Fikri, 2012):
1. Pendekatan Aktif
2. Pendekatan Pasif
        Strategi beli dan simpan
        Mengikuti indeks pasar

3. Pendekatan kombinasi biasa disebut strategi imunisasi yaitu strategi yang digunakan untuk melindungi portofolio atas resiko tingkat suku Bungan dengan cara saling meniadakan pengaruh dua komponen resiko yaitu resiko harga dan resiko reinvestasi.

Penentuan Strategi:
1) Prefernsi inestor terhadap resiko
2) Pengetahuan tentang pasar modal dan instrumennya
3) Tujuan investasi

Contoh Kasus :

Perusahaan Asuransi ABC mempunyai kewajiban 2 tahun sebesar 100juta. Bagaimana strategi yang dilakukan untuk memenuhi kewajiban tersebut melalui invesatsi pada obligasi.
Strategi Imunisasi = Aset dan kewajiban yang memiliki durasi sama akan memberikan portofolio asset yang dapat memnuhi kewajiban meskipun terjadi perubahan tingkat bunga.

Obligasi A dan B memiliki nomimal Rp. 1000.000, dengan tingkat kupon 9% p.a. dan 6% p.a. serta YTM sebesar 10%. Obligasi A memiliki jangka 3 tahun dan B memiliki jangka waktu 1 tahun. Berapa dana yang harus dialokasikan pada masing-masing obligasi??

1. Menghitung besarnya durasi masing-masing obligasi
Dengan menggunakan rumus diatas dan perhitungan dengan bantuan program Ms. Excel maka di dapatkan hasil durasi dari obligasi A dan B sebagai berikut:
2. Menghitung proporsi Alokasi dana pada masing-masing obligasi

Wa = Alokasi Obligasi A Wb = Alokasi Obligasi B
Wa + Wb = 1 => Wb = 1 - Wa
Durasi Portofolio = Jangka waktu kewajiban = 2
Dp = Wa x Da + Wb x Db => (1 – Wb) x Da + Wb x Db
2 = 2,76 (1 – Wb) + 1(Wb)
2 = 2,76 – 2,76 Wb + Wb
Wb = 0,76/1,76 = 0,4305 atau 43,05%
Wa = 1 – 0,435 = 0,5695 atay 56,95%

Kewajiban Asuransi ABC adalah Rp. 110juta atau nilai tunainya sebesar Rp. 100juta / (1+10)2 = Rp. 82.644.628,10
Nilai tunai tersebut dialokasikan pada masing-masing obligasi:

Obligasi A = 56,95% x Rp. 82.644.628,10 = Rp. 47.066.460,21
Obligasi B = 43,05% x Rp. 82.644.628,10 = Rp. 35.578.167,89

Harga Pasar Obligasi


C. KESIMPULAN
1. Perusahaan yang sulit mendapatkan dana pinjaman bank dalam jumlah besar bisa memperoleh dana masyarakat lewat penjualan obligasi. Karena hubungan yang langsung dijalin dengan masyarakat pemodal, maka jumlah pinjaman bisa lebih besar dengan tingkat bunga yang lebih murah dibanding kredit bank.
2. Bagi pemodal, investasi dalam obligasi relatif lebih menjamin keuntungan dibanding saham. Perubahan harga saham umumnya berlangsung jauh lebih cepat dengan fluktuasi yang kerap sangat tajam. Sedangkan tingkat pendapatan pemodal dari obligasi relatif sudah bisa di perhitungkan dari awal.
3. Obligasi umumnya memberikan bunga tetap selama enam bulan pertama. Biasanya, untuk menarik minat pemodal, bunga tetap obligasi ditetapkan lebih tinggi dibanding deposito.
4. Jika obligasi diluncurkan pada waktu suku bunga bergerak turun, maka pihak isseur (perusahaan yang menerbitkan obligasi) akan menderita rugi. Namun bila obligasi di jual pada masa suku bunga bergerak naik, bisa jadi efek yang ditawarkan itu tidak mendapat sambutan pemodal.
5. Bagi investor risiko merugi adalah kemungkinan turunnya harga obligasi dan kesempatan berinvestasi di luar obligasi jika pada saat itu tingkat suku bunga lebih tinggi dari tingkat suku bunga obligasi.

DAFTAR PUSTAKA

Aswari. (2019). Analisis Determinan Permintaan Obligasi Pemerintah [Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Makasar]. In Diploma Thesis. http://eprints.unm.ac.id/id/eprint/14901

Desnitasari, I. (2014). Pengaruh Tingkat Suku Bunga, Peringkat Obligasi, Ukuran Perusahaan Dan Debt To Equity Ratio Terhadap Yield To Maturity Obligasi Korporasi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2012. EProceedings of Management, 1(3).

Fikri, M. (2012). Manajemen Portofolio Obligasi. Palembang: Fakultas Manajemen Universitas Bina Darma.

Hartono, J. (2013). Teori Portofolio Dan Analisis Investasi. Yogyakarta: BPFE-YOGYAKARTA.

Indarsih, N. (2013). Pengaruh Tingkat Suku Bunga SBI, Rating, Likuiditas dan Maturitas terhadap Yield to Maturity Obligasi. Jurnal Ilmu Manajemen (JIM), 1(1).

Malik, A. (2021). Ini Perbedaan Pengertian, Keuntungan, Risiko Antara SBN dan Obligasi Korporasi. Bareksa. https://www.bareksa.com/berita/sbn/2021-03-23/ini-perbedaan-pengertian-keuntungan-risiko-antara-sbn-dan-obligasi-korporasi

Manurung, A. H., Silitonga, D., & Tobing, W. R. L. (2009). Hubungan Rasio-Rasio Keuangan Dengan Rating Obligasi. http://www.finansialbisnis.com/Data2/Riset/rating paper - Desmon.pdf

Prihadi, T. (2010). Analisis Laporan Keuangan: Teori dan Aplikasi. Jakarta: PPM.

Rudianto. (2012). Pengantar Akuntansi Konsep & Teknik Penyusunan Laporan Keuangan. Jakarta: Erlangga.

Sitorus. (2015). Pasar Obligasi Indonesia (Teori dan Praktek). Jakarta : PT Rajagrafindo Persada.

Susilo, B. (2009). Pasar Modal. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.

Tugas Mata Kuliah Manajemen Investasi Dan Portofolio Pasar Uang


A. PENDAHULUAN
Manajemen Bank tidak dapat semaunya menarik nasabah untuk menyimpan uangnya di bank, tanpa adanya keyakinan bahwa dana itu dapat diinvestasikan secara menguntungkan dan dapat dikembalikan ketika dana itu sewaktu - waktu ditarik oleh nasabah, atau dana tersebut telah jatuh tempo. Tanpa adanya fasilitas Pasar Uang, Bank-bank akan menghadapi masalah yang sama seperti diatas. Mengingat pada umumnya perbankan sulit menghindari posisi keuangan yang mismatched. Oleh karena itu, untuk dapat menghandel hal tersebut, bank harus dapat melakukan investasi jangka pendek di Pasar Uang (Syahrul, 2013).

Adapun surat-surat berharga di pasar uang konvensional, kecuali saham, berbasis pada sistem bunga, maka perbankan Islam menghadapi kendala karena mereka tidak diperbolehkan untuk menjadi bagian dari aktiva atau pasiva yang berbasis bunga. Ada beberapa prinsip dasar dalam pasar uang syariah, seperti transaksi tidak pada objek yang diharamkan, tidak mengandung unsur riba, gharar dan maysir, tidak menggunakan sistem bunga dan diganti dengan akad seperti mudharabah, musyarakah, al-qard, wadiah, dan al-sharf (Muchtar & Najma, 2019).


B. ISI
1. Pengertian Pasar Uang
Pasar uang merupakan tempat pertemuan antara pihak yang memiliki surplus dana dengan pihak yang mengalami defisit dana, dimana dananya berjangka pendek, yaitu dana berjangka waktu kurang dari satu tahun. Pasar uang melayani banyak pihak seperti pemerintah, bank, perusahaan asuransi, dan lembaga keuangan lainnya. Pihak yang mendapat manfaat dari pasar uang ini adalah pihak yang kekurangan dana, sedangkan bagi pihak yang berkelebihan dana mendapat manfaat berupa peluang untuk menambah pendapatan dan sekaligus dapat mengurangi risiko finansial (Manan, 2009).

2. Instrumen Pasar Uang Yang Ada di Indonesia
Berikut adalah beberpa instrumen pasar uang yang ada di Indonesia (Muchtar & Najma, 2019):

a. Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
SBI adalah suatu instrumen hutang yang diterbitkan atau yang berasal dari pemerintah atau bank sentral di negara tersebut atas dasar unjuk dengan jumlah yang tertentu dan akan dibayarkan kepada pemegang atau pemilik dana pada tanggal yang telah ditentukan dan disepakati bersama sebelumnya.

b. Surat Berharga Pasar Uang (SBPU)
Surat berharga ini termasuk jenis surat yang memiliki jangka waktu pendek, dan gunanya untuk diperjualbelikan secara diskonto dengan Bank Indonesia atau lembaga-lembaga lain yang dalam naungan Bank Indonesia atau lembaga yang dirujuk atau ditunjuk oleh Bank indonesia.

c. Sertifikat Deposito
Sertifikat deposito merupakan salah satu instrumen keuangan yang diterbitkan oleh atas dasar unjuk dan dinyatakan dalam suatu jumlah, jangka waktu, tingkat bunga tertentu.

d. Commercial Paper
Commercial paper ini merupakan promes yang tidak disertai dengan adanya jaminan yang diterbitkan oleh sebuah perusahaan dengan tujuan untuk memperoleh dana jangka pendek selanjutnya dijual kepada investor dalam pasar uang.

e. Call Money
Pada dasarnya call money diartikan sebagai kredit atau pinjaman yang pelunasannya harus dengan segera apabila sudah mendapatkan panggilan atau peringatan dari pihak yang memberikan dana.

f. Repurchase Agreement (Repo)
Repurchase agreement merupakan kegiatan yang bisa dibilang kegiatan yang timbal balik. Maksudnya adalah kegiatan ini merupakan sebuah transaksi jual beli surat-surat berharga yang disertai dengan perjanjian.

g. Banker’s Acceptence
Instrumen jenis ini merupakan instrumen pasar uang yang khusus digunakan untuk memberikan kredit atau sebuah bantuan kepada importir dan eksportir untuk membantu mereka dalam upaya pembayaran dan pembelian sejumlah barang atau untuk membeli valuta asing.

h. Treasury bills
Merupakan instrumen pasar uang yang penerbitannya dilakukan oleh bank sentral yakni Bank Indonesia dengan jangka waktu kurang dari satu tahun atau tepat satu tahun, penerbitan instrumen ini juga ats dasar unjuk bukan perorangan serta dengan nominal tertentu.

3. Resiko Investasi di Pasar Uang
Berikut ini adalah beberapa resiko yang dapat dialami oleh investor saat berinvestasi di Pasar uang (Amanita, 2017):

a. Risiko Pasar (interest-rate risk), yaitu risiko yang berkaitan dengan turunnya harga surat berharga dan tingkat bunga naik mengakibatkan investor mengalami capital loss.

b. Risiko reinvestment, yaitu risiko yang memaksa investor menempatkan pendapatan yang diperoleh dari bunga kredit atau surat-surat berharga ke investasi yang berpendapatan rendah akibat turunnya tingkat bunga.

c. Risiko gagal bayar. Risiko ini terjadi akibat tidak mampunya peminjam memenuhi kewajibannya sesuai dengan yang diperjanjikan.

d. Risiko inflasi, yaitu pemberi pinjaman menghadapi kemungkinan naiknya harga-harga barang dan jasa-jasa yang akan menurunkan daya beli atas pendapatan yang diterimanya.

e. Risiko valuta (currency or exchange rate risk), yaitu kerugian yang terjadi akibat adanya perubahan yang tidak menguntungkan terhadap kurs mata uang asing.

f. Risiko politik. Risiko ini berkaitan dengan kemungkinan adanya perubahan ketentuan perundangan yang berakibat turunnya pendapatan yang diperkirakan dari suatu investasi atau bahkan akan terjadi kerugian total dari modal yang diinvestasikan.

g. Marketability atau Liquidity risk. Risiko dapat terjadi apabila instrumen pasar uang yang dimiliki sulit untuk dijual kembali sebelum jatuh tempo.

4. Pasar Uang Konvensional VS Pasar Uang Syariah
Pandangan Islam terhadap uang hanyalah sebagai alat tukar bukan sebagai komoditas atau barang dagangan. Maka motif permintaan terhadap uang adalah untuk memenuhi kebutuhan transaksi (money demand for transaction), bukan digunakan untuk spekulasi atau perdagangan. Pasar Uang Konvensional jika dibandingkan dengan Pasar uang Syariah maka terdapat persamaan dan perbedaan antara lain; memiliki fungsi yang sama yaitu sebagai pengatur likuiditas. Perbedaan mendasar diantara keduanya adalah: pada mekanisme penerbitan dan sifat instrumen masing-masing. Pada pasar uang konvensional yang diterbitkan adalah instrumen hutang yang dijual dengan diskon dan didasarkan atas perhitungan bunga (interest); sedangkan pasar uang syariah lebih kompleks dan mendekati mekanisme pasar modal (Syahrul, 2013).

Instrumen pasar uang konvensional di Indonesia adalah; Surat Utang Negara (SUN), Repurchase Agreements (Repo), Commercial Paper (CP), Negotiable Certificates of Deposit (CDs) dan Bankers Acceptances (Syahrul, 2013). Sedangkan instrument pasar uang syariah (PUAS) yaitu Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank (SIMA) dan Sertifikat Perdagangan Komoditi
Berdasarkan Prinsip Syariah Antarbank (SiKA) (Muchtar & Najma, 2019). Berikut adalah tabel perbedaan pasar uang syariah dan pasar uang konvensional (Muchtar & Najma, 2019):
Tabel 1. Perbedaan Pasar Uang Syariah Dan Pasar Uang Konvensional
5. Mekanisme Perdagangan Pasar Uang Konvensional dan Syariah
Mekanisme pasar uang konvensional hanya dapat berfungsi dengan baik apabila dipenuhi beberapa syarat sebagai berikut (Tuhfa, 2017):

a. Uang yang diperdagangkan harus mempunyai bentuk instrumen tertentu, antara lain: Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat Berharga Pasar Uang (SBPU), sertifikat deposito, dan call money.
b. Ada lembaga keuangan yang bersedia menjadi pencipta pasar (market maker). Di Indonesia fungsi ini dijalankan oleh Ficorinvest yang sering disebut security house.
c. Prasarana komunikasi yang memadai
d. Informasi keuangan yang dapat dipercaya, yaitu data keuangan perusahaan yang mengeluarkan SBPU.

Penjelasan mekanisme tersebut sebagai berikut:

Pertama, mekanisme Call money; bisa diperdagangkan secara langsung antar bank dan biasanya dilakukan melalui telepon. Hal ini dilakukan karena kebutuhan liquiditas bank biasanya mendesak, baik karena kekurangan dalam kliring maupun untuk memenuhi kebutuhan kewajiban likuiditas.

Kedua, SBI dan SBPU harus diperdagangkan melaui security house (Ficorinvest) sebagai perantara antara pemilik dan pemakai, melalui jual beli surat-surat berharga dengan mekanisme; BI menjual SBI kepada Ficorinvest, barulah kemudian kepada lembaga-lembaga keuangan.

Ketiga, mekanisme untuk SBPU; nasabah, baik badan usaha maupun perorangan mengeluarkan surat aksep atau wesel untuk mendapatkan dana dari bank atau lembaga keuangan non-bank, kemudian surat-surat berharga ini diperjualbelikan oleh bank atau lembaga keuangan non-bank melalui security house yang akan memperjualbelikan dengan BI.

Adapun mekanisme dan penyelesaian transaksi Investasi Mudharabah Antar Bank Syari’ah (IMA) dalam pasar uang adalah sebagai berikut (Tuhfa, 2017):
a. Sertifikat IMA yang diterbitkan oleh Bank Pengelola dana dalam rangkap tiga, lembar pertama dan kedua tersebut wajib diserahkan kepada bank penanam dana sebagai bukti penanaman dana, sedangkan lembar ketiga digunakan sebagai arsip bagai bank penerbit dana.
b. Bank penanam dana pada Sertifikat IMA melakukan pembayaran kepada bank penerbit sertifikat IMA dengan mengunakan nota kredit melalui kliring, atau Bilyet Giro Bank Indonesia dengan melampirkan lembar kedua Sertifikat IMA atau dengan transfer dana elektronik yang disertai dengan penyampaian lembar kedua Sertifikat IMA kepada Bank Indonesia.
c. Pemindah tanganan Sertifikat IMA hanya dapat dilakukan oleh pihak bank penanam dana pertama, sedangkan bank penanam dana kedua tidak diperkenankan untuk memindah tangankan kepada bank lain sampai berakhirnya jangka waktu.
d. Saar sertifikat IMA jatuh tempo, penyelesaian transaksi dilakukan oleh bank Penerbit Sertifikat IMA dengan melakukan pembayaran kepada pemegang sertifikat terakhir sebesar nilai nominal Investasi (face Value) dengan menggunakan nota kredit melalui kliring, menggunakan Bilyet Giro BI atau menggunakan transfer dana secara elektronik. Sedangkan imbalan Sertifikat IMA akan dibayar pada hari kerja pertama bulan berikutnya.

Selanjutnya penghitungan imbalan Sertifikat IMA dihitung berdasarkan tingkat realisasi imbalan Sertifikat IMA mangacu pada tingkat imbalan Deposito Investasi Mudharabah pada bank penerbit sesuai dengan jagka waktu penanaman.

Teknik Perhitungan Imbalannya :

Adapun besarnya imbalan darisertifkat IMA ini yang dibayarkan pada awal bulan dihitung berdasarkan tingkat realisasi imbalan deposito investasi mudharabah pada bank penerbit sebelum di distribusikan sesuaidengan jangka waktu penanaman. Misalkan untuk jangka waktu sertifikat IMA dari batasan 1 hingga 30 hari, maka tingkat imbalan yang digunakan adalah nilai pengembalian deposito investasi mudharabah 1 bulan. Begitu juga dengan jangka waktu yang ditentukan dalam waktu antara 31-90 hari, maka tingkat imbalannya adalah deposito investasi mudharabah selam 3 bulan. Rumus perhitungan besarnya imbalan Sertifikat IMA adalah sebagai berikut:

X = P x R x t/360 x k

Keterangan:
X=Besarnya imbalan yang diberikan kepada bank penanam dana
P = Nilai nominal investasi
R=Tingkat realisasi imbalan Deposito Investasi Mudharabah
t = Jangka waktu investasi
K = Nisbah bagi hasil untuk bank penanam dana

6. Cara Berinvestasi di Pasar Uang
Bagi para investor yang ingin berinvestasi di Pasar uang salah satu caranya adalah dengan melalui Reksa Dana Pasar Uang. Sekarang sudah banyak aplikasi investasi yang dapat mempermudah kita dalam melakukan investasi termasuk investasi Reksa Dana. Tapi sebelum menggunakan aplikasi invetasi pastikan terlebih dulu jika aplikasi tersebut sudah diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Berikut adalah beberapa contoh produk Pasar Uang Reksa Dana:

a. Sucorinvest Sharia Money Market Asset Management

Manajer investasi : PT. Sucorinvest Asset Management
Bank Konstodian : The Hongkong And Shanghai Banking Corporation
Alokasi :
Ø Deposito Syariah dan Setara Kas (32.42 %)
Ø Sukuk (dgn. sisa jt. tempo dan/atau jk. waktu < 1 tahun) (67.58 %)
Daftar alokasi dana:
Ø Sukuk SMINKP01ACN1
Ø Sukuk SMMFIN01CN1
Ø TD PT BANK MEGA SYARIAH
Ø Sukuk SMOPPM01A
Ø Sukuk SMPPGD01ACN4
Tingkat resiko : Rendah
Total dana kelolaan : Rp. 2.230.000.000.000

b. TRIM KAS 2

Manajer investasi : PT. Trimegah Asset Management
Bank Konstodian : PT Bank DBS Indonesia
Alokasi :
Ø Obligasi (42.28 %)
Ø Lainnya (57.72 %)
Daftar alokasi dana:
Ø Obligasi BKLJT IV Indomobil Finance Ind. Thp II Thn 2021 SR A
Ø Sukuk MDRBH OKI Pulp&Paper Mills Thp I Thn 2021 Seri A
Ø Obligasi BKLJT III SMART Tahap I Tahun 2021 Seri A
Ø Obligasi BKLJT I Indah Kiat Pulp & Paper Thp IV Thn 2021 SR A
Ø Obligasi BKLJT II Merdeka Copper Gold Thp I Thn 2021 SR A
Ø Obligasi BKLJT II Jaya Ancol Thp II Tahun 2021 Seri A
Ø Obligasi BKLJT III PNM Thp IV Thn 2020 Seri A
Ø Obligasi OKI Pulp&Paper Mills I Thn 2021 Seri A
Ø Obligasi BKLJT I Indah Kiat Pulp & Paper Thp III Thn 2020 SR A
Ø Obligasi BKLJT II Sinar Mas Multifinance Thp II Thn 2021 SR A
Tingkat resiko : Rendah
Total dana kelolaan : Rp. 3.450.000.000.000

C. PENUTUP
Pasar uang (money market) adalah pasar dimana diperdagangkan surat-surat berharga jangka pendek. Harga dalam Pasar Uang Konvensional biasanya dinyatakan dalam suatu prosentase yang mewakili pendapatan (return) berkaitan dengan penggunaan uang untuk jangka waktu tertentu

Pasar Uang Antar bank berdasarkan Prinsip Syariah (PUAS) adalah kegiatan investasi jangka pendek dalam rupiah antar peserta pasar berdasarkan prinsip Mudharabah, yaitu perjanjian antara penanam dana dan pengelola dana untuk melakukan kegiatan usaha guna memperoleh keuntungan, dan keuntungan tersebut akan dibagikan kepada kedua belah pihak berdasarkan nisbah yang teiah disepakati sebelumnya.

Investasi di Pasar uang dapat dilakukan melalui reksa dana pasar uang yang dapat kita lakukan dengan aplikasi investasi yang sudah banyak beredar di Indonesia dan pastikan sudah diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

DAFTAR PUSTAKA

Amanita, N. (2017). Pasar Uang. 262.

Manan, A. (2009). Aspek Hukum Dalam Penyelenggaraan Investasi di Pasar Modal Syariah Indonesia. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Muchtar, E. H., & Najma, S. (2019). Aplikasi Sistem Keuangan Syariah Pada Pasar Uang. Jurnal Asy-Syukriyah, 20(1), 56.

Syahrul, H. (2013). Pasar Uang Ditinjau Dari Sosiologi Ekonomi. Jurnal Hukum Diktum, 11(2), 205–211.

Tuhfa, N. (2017). Mekanisme dan Instrumennya Pasar Uang dan Pasar Modal Syariah di Indonesia. Iqtishodiyah: Jurnal Ekonomi Dan Bisnis Islam, III(2). https://ejournal.inzah.ac.id/index.php/iqtishodiyah/article/view/235

Tugas Mata Kuliah MSDM Loyalty Employee


A. Pengertian Loyalty Employee
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990) loyalitas adalah kesetiaan, ketaatan, dan kepatuhan. Loyalitas kerja yaitu kesetiaan dicerminkan oleh kesediaan karyawan menjaga dan membela organisasi di dalam maupun di luar pekerjaan dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab (Hasibuan, 2011). Loyalitas kerja para karyawan bukan hanya sekedar kesetiaan fisik atau keberadaaannya di dalam organisasi, namun termasuk pikiran, perhatian, gagasan, serta dedikasinya tercurah sepenuhnya kepada organisasi (Robbins, 2002). Loyalitas kerja merupakan sikap karyawan dalam mencurahkan kemampuan dan keahlian yang dimiliki, melaksanakan tugas dengan bertanggung jawab, disiplin, serta jujur dalam bekerja (Poerwopoespito, 2004). Sudimin menyatakan loyalitas berarti kesetiaan karyawan dengan seluruh kemampuan, keterampilan, pikiran, dan waktu untuk ikut serta mencapai tujuan perusahaan dan menyimpan rahasia perusahaan selama orang itu masih berstatus sebagai karyawan (Sudimin, 2003).

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa loyalitas karyawan adalah kesediaan karyawan untuk menjalankan tugas perusahaan secara penuh kesadaran dan tanggung jawab sehingga tujuan perusahaan berhasil maksimal.

B. Ciri-Ciri Loyalty Employee
Ciri-ciri loyalitas pegawai menurut Poerwopoespito (2000) antara lain adalah :

1. Kejujuran
Kejujuran mempunyai banyak dimensi dan bidang. Dalam konteks sikap setia kepada perusahaan, ketidakjujuran di perusahaan akan merugikan banyak orang, bukan hanya perusahaan, tetapi pemilik, direksi, karyawan, keluarga karyawan, masyarakat, supplier, dan yang lainnya pada akhirnya negarapun dirugikan.

2. Mempunyai rasa memiliki perusahaan
Memberi pengertian agar karyawan mempunyai rasa memiliki perusahaan adalah dengan memahami bahwa perusahaan adalah tubuh imajiner, dimana seluruh pribadi yang terlibat di dalamnya merupakan anggota-anggotanya.

3. Mengerti kesulitan perusahaan
Memahami bahwa yang terbaik untuk perusahaan pada hakikatnya terbaik untuk karyawan. Dan yang terbaik untuk karyawan belum tentu terbaik untuk perusahaan. Tindakan yang bijak yang dilakukan oleh karyawan dalam memahami dan mengerti kesulitan perusahaan adalah dengan saling bahu-membahu untuk membantu pulihnya perusahaan bukan dengan meninggalkannya dan segera pindah ke perusahaan yang lain.

4. Bekerja lebih dari yang diminta perusahaan
Hal ini sepertinya sulit dilakukan sebab mengerjakan dalam job description saja sulit apalagi mengerjakan yang lainnya. Bekerja lebih dari yang diminta perusahaan merupakan konsep yang hebat dan dalam jangka panjang memberikan keuntungan yang besar pada individu karyawan itu sendiri. Perusahaan bisa saja bangkrut tetapi manusia yang berkualitas dan kompetitif tidak mungkin bangkrut.

5. Menciptakan suasana yang menyenangkan di di perusahaan
Suasana yang tidak kondusif sangat mempengaruhi kinerja karyawan, yang berakibat terhadap produktifitas. Yang paling menentukan sarana dalam perusahaan adalah pimpinannya. Semakin tinggi jabatan pemimpin tersebut semakin berpengaruh dalam menciptakan suasana di perusahaan karena merekalah yang mempunyai kekuasaan dan wewenang yang lebih

6. Menyimpan rahasia perusahaan
Rahasia perusahaan adalah segala data atau informasi dari perusahaan yang dapat digunakan oleh pihak lain, terutama competitor untuk perusahaan.

7. Menjaga dan meninggikan citra perusahaan
Kewajiban setiap karyawan menjaga citra positif perusahaan. Logikanya jika citra perusahaan positif maka citra setiap pribadi karyawan yang ada di dalamnya juga ikut terlihat positif.

8. Hemat
Hemat berarti mengeluarkan uang atau potensi tepat sesuai dengan kebutuhan.

9. Tidak apriori terhadap perubahan
Perubahan pada hakikatnya adalah sebuah hukum alam. Perubahan tidak dapat dilawan dan tidak ada pilihan lain kecuali tetap ikut dalam perubahan. Karena melawan perubahan dengan selalu membuat tolak ukur pada kejayaan dan keberhasilan masa lampau sama dengan melawan hukum alam.

C. Aspek Loyalty Employee
Aspek-aspek loyalitas karyawan menurut Soegandhi (2003) yaitu sebagai berikut:

1. Taat pada peraturan
Setiap kebijakan yang ditetapkan dalam perusahaan untuk memperlancar dan mengatur jalannya pelaksanaan tugas oleh manajemen perusahaan ditaati dan dilaksanakan dengan keadaan ini akan menimbulkan kedisplinan yang menguntungkan perusahaan baik intern maupun ekstern.

2. Tanggung jawab dalam perusahaan
Karakteristik pekerjaan dan pelaksanaan tugasnya mempunyai konsekuensi yang dibebankan karyawan untuk melaksanakan tugas sebaik-baiknya dan kesadaraan akan resiko pelaksanaan tugasnya akan memberikan pengertian tentang keberanian dan kesadaran bertanggungjawab terhadap resiko atas apa yang telah dilaksanakan.

3. Kemauan untuk bekerjasama
Bekerja sama dengan orang-orang dalam suatu kelompok akan memungkinkan perusahaan dapat mencapai tujuan yang tidak mungkin dicapai oleh orang-orang secara individual.

4. Rasa memiliki
Adanya rasa ikut memiliki karyawan terhadap perusahaan akan memiliki karyawan sikap untuk ikut menjaga dan bertanggungjawab terhadap perusahaan sehingga pada akhirnya akan menimbulkan loyalitas demi tercapainya tujuan perusahaan.

5. Hubungan antara peribadi
Karyawan yang mempunyai loyalitas kerja tinggi mereka akan mempunyai sikap fleksibel ke arah tata hubungan yang pribadi. Hubungan antara pribadi ini meliputi : hubungan sosial diantara karyawan, hubungan yang harmonis antara atasan dan karyawan, situasi kerja dan sugesti dari teman kerja.

6. Kesukaan terhadap pekerjaan

Perusahaan harus dapat menghadapi kenyataan bahwa karyawannya tiap hari datang untuk bekerjasama sebagai manusia seutuhnya dalam hal melakukan pekerjaan yang akan dilakukan dengan senang hati.

D. Indikator Loyalty Employee
Siswanto (2010) mengenukakan beberapa indikator dari loyalitas pegawai, yaitu sebagai berikut:

1. Taat pada peraturan
Karyawan mempunyai tekat untuk melakukan setiap perintah dari perusahaan atau mentaati dan mematuhi segala peraturan yang berlaku, baik secara tertulis maupun tidak tertulis.

2. Tanggung jawab pada perusahaan
Kesanggupan karyawan dalam melaksanakan tugas sebaikbaiknya dan kesadaran tanggung jawab terhadap resiko atas apa yang telah dilaksanakan.

3. Kemauan untuk bekerja sama
Karyawan dapat bekerja sama dengan orang-orang yang ada dalam suatu perusahaan karena tanpa adanya kerja sama, maka sulit perusahaan mencapai tujuan. Sebaliknya, dengan bekerja sama memungkinkan perusahaan dalam mencapai tujuan dan target yang telah ditetapkan.

4. Rasa memiliki terhadap perusahaan
Adanya rasa ikut memiliki karyawan terhadap perusahaan akan membuat karyawan memiliki sikap untuk menjaga dan bertanggung jawab terhadap perusahaan, sehingga akan menimbulkan loyalitas demi tercapainya tujuan perusahaan.

5. Hubungan antar pribadi
Karyawan yang memiliki loyalitas tinggi akan mempunyai sikap fleksibel ke arah hubungan pribadi. Hubungan antara pribadi ini meliputi, hubungan sosial antara para karyawan, serta hubungan antara atasan dan karyawan.

6. Kesukaan terhadap pekerjaan
Karyawan melakukan pekerjaannya dengan senang hati sebagai indikatornya bisa dilihat dari keunggulan karyawan dalam bekerja dan karyawan tidak banyak menuntut apa yang diterimanya di luar gaji pokok.

E. Faktor-Faktor Loyalty Employee
Jusuf (2010) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi loyalitas adalah karyawan sebagai berikut :

1. Faktor Rasional
Menyangkut hal-hal yang bisa dijelaskan secara logis, seperti: gaji, bonus, jenjang karir dan fasilitas-fasilitas yang diberikan lembaga kepada karyawan.

2. Faktor Emosional
Menyangkut perasaan atau ekspresi diri seperti: pekerjaan yang menantang, lingkungan kerja yang mendukung, perasaan aman karena perusahaan merupakan tempat bekerja dalam jangka panjang, pemimpin yang berkharisma, pekerjaan yang membanggakan, penghargaan-penghargaan yang diberikan perusahaan dan budaya kerja.

3. Faktor Kepribadian
Menyangkut sifat, karakter, tempramen yang dimiliki oleh karyawan.
Steers & Porter (2011) menyatakan bahwa timbulnya loyalitas dipengaruhi oleh faktor-faktor:
1. Karakteristik pribadi, meliputi: Usia, masa kerja, jenis kelamin, tingkat pendidikan, prestasi yang dimiliki, ras, dan sifat kepribadian.
2. Karakterisrik pekerjaan, meliputi: tantangan kerja, stres kerja, kesempatan untuk berinteraksi sosial, identifikasi tugas, dan kecocokan tugas.
3. Karakteristik desain perusahaan meliputi: tingkat formalitas, tingkat keikutsertaan dalam pengambilan keputusan, paling tidak telah menunjukan berbagai tingkat asosiasi dengan tanggung jawab perusahaan, ketergantungan fungsional maupun fungsi kontrol perusahaan.
4. Pengalaman yang diperoleh dalam perusahaan yaitu internalisasi individu terhadap perusahaan setelah melaksanakan pekerjaan dalam perusahaan tersebut meliputi sikap positif terhadap perusahaan. Rasa percaya terhadap perusahaan sehingga menimbulkan rasa aman, merasakan adanya kepuasan pribadi yang dapat dipenuhi oleh perusahaan

F. Indikasi Turunnya Loyalty Employee
Ada beberapa indikator/tanda-tanda loyalitas pegawai sudah mulai menurun, yaitu sebagai berikut (Jusuf, 2010):

1. Turun atau rendahnya produktivitas kerja
Turunnya produktivitas kerja ini dapat diukur atau diperbandingkan dengan waktu sebelumnya. Produktivitas kerja yang turun ini dapat terjadi karena kemalasan atau penundaan kerja.

2. Tingkat absensi yang naik
Pada umumnya bila loyalitas dan sikap kerja karyawan turun, maka karyawan akan malas untuk datang bekerja setiap hari. Bila ada gejala – gejala absensi naik maka perlu segera dilakukan penelitian.

3. Tingkat perpindahan karyawan yang tinggi

4. Kegelisahan
Loyalitas dan sikap kerja karyawan yang menurun dapat menimbulkan ke-gelisahan. Seorang pemimpin harus mengetahui bahwa adanya kegelisahan itu dapat terwujud dalam bentuk keti-dak tenangan dalam bekerja, keluh kesah serta hal-hal yang lain.

5. Tuntutan yang sering terjadi.
Tuntutan yang sebetulnya merupakan perwujudan dan ketidakpuasan, dimana pada tahap tertentu akan menimbulkan keberanian untuk mengajukan tuntutan.

6. Pemogokan.
Tingkat indikasi yang paling kuat ten-tang turunnya loyalitas dan sikap kerja karyawan adalah pemogokan.

G. Kiat Membangun Loyalty Employee
Jusuf (2010) menjelaskan cara-cara yang dapat dilakukan lembaga kerja untuk dapat membangun loyalitas pegawai:

1. Gaji yang cukup
2. Memberikan kebutuhan rohani.
3. Sesekali perlu menciptakan suasana santai.
4. Menempatkan karyawan pada posisi yang tepat.
5. Memberikan kesempatan pada karyawan untuk maju.
6. Memperhatikan rasa aman untuk menghadapi masa depan.
7. Mengusahakan karyawan untuk mempunyai loyalitas.
8. Sesekali mengajak karyawan berunding.
9. Memberikan fasilitas yang menyenangkan..


DAFTAR PUSTAKA

Hasibuan, M. (2011). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.

Jusuf, H. (2010). Tingkatkan Loyalitas Guna Peningkatan Prestasi Kerja dan Karir.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. (1990). No Title. Jakarta: Balai Pustaka.

Poerwopoespito. (2000). Mengatasi Krisis Manusia Di Perusahaan. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Poerwopoespito. (2004). Komitmen Dalam Sumber Daya Manusia. Jakarta: Management Student.

Robbins, P. S. (2002). Prinsip-Prinsip Perilaku Organisasi. Edisi Kelima. Diterjemahkan oleh: Halida, S.E dan Dewi Sartika, S.S. Jakarta: Erlangga.

Siswanto. (2010). Pengantar Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara.

Soegandhi. (2003). Manajemen sumber daya manusia. Jakarta: PT Gunung Agung.

Steers, R. M., & Porter, L. W. (2011). Motivation and Work Behaviour. New York: Accademic Press.

Sudimin, T. (2003). Whistleblowing : Dilema Loyalitas dan Tanggung Jawab Publik. Jurmal Manajemen Dan Usahawan, 12(11), 3–8.

Intermezzo

Travel

Teknologi